Headlines News :

KONI Sesalkan Penjegalan Karateka

Written By tonitok on Jumat, 22 Juni 2012 | 08.20

H Prajitno

DEMAK-Masalah yang menima Asiska Doni Oktafianto, pelajar kelas VII SMPN 1 Demak yang dijegal untuk mengikuti Olimpade Olahraga dan Sains Nasional (O2SN) mengundang reaksi pedas dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Menurut KONI, hal itu bisa dikategorikan ‘pembunuhan’ atlet dan vertentangan dengan spirit pembinaan. Seharusnya persoalan ego antarperguruan dengan federasi tidak berdampak kepada atlet yang akan membawa nama daerah.

Ketua KONI Demak H Prajitno mengaku kaget dengan kabar atlet berpotensi digagalkan dalam seleksi O2SN dengan alasan tak jelas. Dia juga mengaku sudah tahu kemelut yang terjadi di tubuh FORKI Demak (Federasi Olahraga Karateka Indonesia), yang hingga kini belum selesai.

“Inilah dampaknya bila masalah dalam wadah persatuan olahraga tidak selesai-selesai. Dalam hai kecil saja, tidak rela. Akibatnya, potensi atlet terabaikan,” katanya.

Prajitno berjanji akan mengirim surat resi ke FORKI terkait masalah itu. Dia meminta FORKI segera menertibakan seluruh perguruan agar tidak terjadi lagi atlet berprestasi gagal bertanding karena perguruannya tidak diakui induk organisasinya.

Diberitakan, Oktafianto yang sarat prestasi dalam kejuaran karateka, seperti juara II Katak Perorangan Putra Pemula Kejurnas Pelajar 2012 tak mendapat kepercayaan untuk mengikuti seleksi.

"Oktafianto memiliki potensi, sayangnya divonis tidka boleh ikut seleksi. Padahal seleksi sudah digelar pekan lalu,” kata pelatih Oktafianto, Martono dari perguruan Karate INKAI Demak.

Terpisah, Wakil Ketua FORKI Demak, Edi Riyanto menjelaskan, ketika Dinas Pendidikan merangkul FORKI untuk menyeleksi calon atlet yang akan dikirim ke O2SN, FORKI sengaja tidak menggelar seleksi karena keterbatasan anggaran.

“Namun dari kesepakatan pengurus, kami mengirim atlet yang menjadi juara umum pada Kejuaraan Karate Dandim 0716/Demak Cup,” jelasnya.

Selain itu, Edi meminta perguruan lain kembali bersatu dalam bendera FORKI untuk memajukan dunia karate. Pihaknya siap duduk satu meja dengan perguruan karate yang sudah menyatakan keluar dari FORKI. Namun dengan syarat, perguruan tersebut bergambung kembali dengan FORKI agar memudahkan komunikasi ketika mencari solusi bersama. (swi/16)

Tak Kebagian Kios, Pedagang Wadul Dewan

HARSEM/SUKMA WIJAYA
MENGADU: Lima pedagang Pasar Bintoro mengadu ke DPRD Demak dan ditemui Wakil Ketua Mugiyono.

DEMAK-Lima pedagang Pasar Bintoro mengadu ke dewan. Mereka mengaku tak bisa menempati kios, padahal sudah memiliki izin. “Saya pedagang lama di Pasar Bintoro, namun tidak dapat kapling kios di dalam induk pasar. Malah ditempatkan di lantai dua Pasar Joglo,” aku Abdullah (59) warga Kampung Sampangan Kelurahan Bintoro Demak.

ABDULAH bersama empat pedagang lain, yaitu Nuryati, Abdul Rohman, Suhadak, dan Munawar, merasa dirugikan dalam pembagian kios. Seharusnya sesuai dengan janji pemkab, para pedagang lama bisa menempati induk Pasar Bintoro.

Lebih aneh lagi yang dialami pedagang nasi bernama Partini. Karena tidak mampu membayar kios yang menjadi haknya, kios dijual petugas pasar kepada pedagang baru dan Partini diberi uang tukon kios Rp 30 juta. Lima pedagang tersebut mengaku resah dengan kebijakan Kepala Pasar Bintoro Masrukhin yang kerap merugikan pedagang.

Ketua Forum Komunikasi Rakyat dan Mahasiswa Demak (FKRMD) Mohamad Rifai yang mendampingi pedagang, menduga ada pelicin dalam penempatan kios. Nominalnya Rp 10 juta per kios, di luar harga resmi. "Kami menduga uang pelicin ditarik Kepala Pasar Bintoro, Masrukhin,” tegas Rifai.

Indikasinya, ada pedagang lama tidak menempati kios dalam induk pasar, namun banyak pedagang baru yang berani membeli dengan harga dua kali lipat lebih mahal, bisa menempati induk pasar.

Wakil Ketua DPRD Demak Mugiyono yang menerima protes pedagang lama tersebut, meminta kesabaran para pedagang. “Kami tampung persoalan ini. Ke depan kami undang eksekutif untuk mencarikan solusi yang terbaik,” katanya.

Mengundang eksekutif untuk mencari solusi, bagi Mugiyono cukup beralasan, karena MoU (nota kesepakatan) kelanjutan pembangunan Pasar Bintoro antara pemkab dan investor. Pemkab sebagai pihak II berkewajiban memasarkan ke pedagang.

Pedagang yang menempati Pasar Bintoro terbagi dalam tiga kriteria. Meliputi pedagang lama berizin, pedagang lama belum berizin, dan pedagang baru. Namun pemkab berjanji memprioritaskan pedagang lama masuk dulu ke induk pasar.

Sampai berita ini diturunkan, Masrukhin Kepala Pasar Bintoro belum bisa dimintai konfirmasi.  (swi/16)

Kiai NU Harus Melek Teknologi

SM/HariSantoso
TAUZIAH: Ketua Umum PBNU Prof DR KH Said Aqil Siradj memberikan tauziah di Ponpes Hidayatul Quran di Dusun Ngepreh Desa Sayung Kecamatan Sayung Selasa malam lalu.





DEMAK- Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj mengingatkan ulama dan kiai NU tidak boleh ketinggalan perkembangan teknologi. Sebab, teknologi sarana ampuh untuk berdakwah.

"Ceramah saya bahkan ditayangkan dalam  situs  You Tube. Sepanjang itu dianggap bermaslahat untuk umat  kenapa tidak dimanfaatkan," ujar Said Aqil  dalam pengajian akbar, wisuda akhirussanah dan khotmil Quran di  Ponpes Hidayatul Quran Dusun Ngepreh Desa Sayung Kecamatan Sayung, Selasa malam lalu.

Menurutnya tak ada kata salah, bila warga NU berakrab-akrab dengan perangkat multimedia, mulai dari  gadget, ipad, laptop hingga internet. Peranti tersebut sepanjang tidak dipakai bermewah mewah bisa dimanfaatkan sarana dakwah.

Dibutuhkan

Dia menambahkan, teknologi dibutuhkan lantaran  ajaran Islam  ahlussunah wal jamaah (aswaja) yang menjadi keyakinan warga NU, harus disampaikan hingga kalangan kampus, birokrasi, penegak hukum, bahkan ke mancanegara. 

Sasaran dakwah harus luas untuk menyadarkan umat mengenai ajaran Rasulullah, yang rahmatan lil alamin. "Warnai Indonesia dengan NU yang berfaham Islam Aswaja. Paham ini dengan toleransi Islamnya    terbukti mampu merekatkan NKRI yang terdiri atas beragam suku, agama, dan ras."

Ulama, kiai dan ponpes, lanjut dia, menjadi benteng terakhir dalam meluruskan ajaran Islam yang cinta damai. Peran ulama sangat besar untuk mewujudkan keteladanan (takdris), kedisiplinan (takdim) dan agamis (tarbiah) di kalangan umat.

Hadir dalam pengajian akbar itu, Ketua PCNU Kabupaten Demak Ir HM Musadad Syarif, Syuriah NU KH Alawy Masudi, Pengasuh Ponpes Hidayatul Quran sekaligus pengasuh panti rehabilitasi jiwa Nurusalam Sayung  KH Nur Fathoni Zein, para ulama serta kiai sepuh NU. Selain itu, juga Ketua Fraksi Golkar DPRD Demak Sunari dan Ketua Komisi D H Nurul Muttaqin. (H41-64) 

17 Anak Ikuti Sunatan Masal

MERINGIS: Sejumlah anak tengah mengikuti sunatan massal di Rupatama Mapolres Demak
DEMAK-Untuk membantu keluarga miskin, Polres Demak menggelar sunatan massal di ruang Rupatama Mapolres Demak. Kegiatan merupakan rangkaian menyambut HUT Bhayangkara ke-66. Beberapa peserta terlihat takut. Mereka menutup mata ketika disunat. “Saya takut melihat jarum suntik,” aku Ahmad (12) warga Demak. Dia sempat meringis ketika gunting menyentuh kulit kelaki-lakiannya. 

Sunatan massal diikuti 17 anak. Peserta mendapat bingkisan berupa sarung, baju, peci, buku, tas alat sekolah, dan uang saku. Sunatan massal yang dihelat Bagian Sumber Daya (Sumda) Polres Demak berjalan relatif singkat. Panitia mendatangkan dokter Siti Anisa dan Dr Menuk, dibantu tim medis dari Polres Demak.
Sunatan massal dibarengkan pembukaan turnamen bolavoli Kapolres Cup di lapangan Mapolres Demak. Kegiatan tersebut cukup mengundang perhatian masyarakat yang hadir. “Semoga setelah disunat, adik-adik bisa menjadi anak sholeh,” kata Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo didampingi Kabag Sumbda Kompol Budiono.

Kepada para atlet bolavoli, Kapolres mengingatkan agar bermain sportif. Sehingga muncul potensi bibit pemain baru yang berkualitas. Serta mampu membawa harum nama daerah ketika dikirim bertanding ke turnamen lain. (swi/16) 

141 Siswa Tersingkir dari Seleksi

KETAT: Sejumlah siswa mengikuti seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) Demak            HARSEM/SUKMA WIJAYA

DEMAK-Betapa ketatnya seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Dari171 pelajar yang mengikuti seleksi, sebanyak 141 harus gigit jari. Hanya 30 yang akhirnya terpilih.

Seleksi dilakukan Kesbangpolinmas bersama Kodim 0716/Demak, di halaman pendopo Kabupaten Demak. Seleksi diikuti pelajar dari 32 SMA dan sederajat.

Kepala Kantor Kesbangpolinmas Demak Taufik Rifai melalui Kasi Linmas Anwar Masdari mengakui ketatnya seleksi Paskibraka. “Mereka diseleksi langsung oleh anggota Kodim 0716/Demak berdasar kriteria yang baku,” ucapnya.

Pelajar yang lolos seleksi akan dikarantina pada 30 Juli - Agustus 2012. Mereka akan mengikuti latihan dasar hingga pemantapan.

Pasiops Kodim 0716/Demak Kapt Arh Jayadi menegaskan, puluhan siswa-siswi yang terpilih memenuhi kriteria baku sebagai anggota Paskibaka. Meliputi tinggi badan 160 cm bagi wanita, 170 cm bagi pelajar pria, disiplin dan cerdas.

Jayadi mewakili Komandan Kodim 0716/Demak Letkol Arm Rully Chandrayadi menambahkan, seleksi Paskibraka dilakukan secara adil dan terbuka. Tak ada unsur titip atau hal negatif lainnya.
“Kami melakukan seleksi dengan disiplin tanpa keperpihakan,” kata Kapten Jayadi.

Jayadi menilai kedisplinan peserta seleksi cukup bagus. Ketrampilan dalam peraturan baris berbaris (PBB) juga mumpuni. Karena yang dikirim oleh sekolah rata-rata siswa-siswa yang mengikuti ekstrakurikuler paskibra. (swi/16)

Musim Kemarau, Waktunya Kerja Keras

Joko Suryanto

DEMAK-Wilayah Demak yang panas dan kering sangat rentan kebakaran. Apalagi di musim kemarau seperti ini. Kebakaran kerap terjadi, mayoritas menimpa rumah dari kayu. Hubungan arus pendek (konsleting) masih menjadi ‘kambing hitam’.

“Memang, kebanyakan bermula dari hubungan pendek arus listrik. Namun, api mudah membesar karena rumah korban kebanyakan dari kayu,” kata Kepala UPTD Pemadam Kebakaran DPUPPE Demak, Joko Suryanto, kemarin.

Sebagai petugas pemadam kebakaran, pihaknya bertugas mencegah, memadamkan, dan memberikan perlindungan jiwa harta benda. Dia berharap masyarakat lebih berhati-hati menggunakan peralatan listrik atau barang yang mudah memicu kebakaran.

Dari data UPTD Kebakaran, selama lima tahun terakhir telah terjadi puluhan kebakaran yang menelan kerugian materi hingga miliaran rupiah. Meliputi tahun 2008 terjadi 29 peristiwa, 19 kejadian tahun 2009, tahun 2010 ada 11, tahun 2011 ada 28 kejadian, dan tahun 2012 sampai akhir Juni sudah terjadi 11 kebakaran.

Mayoritas kebakaran terjadi di enam kecamatan. Meliputi Kecamatan Bonang, Wonosalam, Demak Kota, Mijen, Karangawen, dan Mranggen. Kebanyakan api cepat menjalar ke pemukiman karena cuaca yang panas dan di lokasi kejadian sulit air.

Joko  Suryanto mengakui tingginya rasa gotong royong masyarakat. Warga bisa digerakkan hanya melalui alat komunikasi tradisional berupa kenthongan. Warga juga bisa mengamankan lokasi dari kerumunan orang dan kendaraan yang menghambat kinerja petugas pemadam.

Joko Suryanto meminta masyarakat, bila terjadi kebakaran segera telepon di pesawat (0291) 682113 dengan menyebut nama pelapor, nomor telepon yang dipakai, alamat kebakaran, dan jenis yang terbakar. Jumlah armada PMK Demak hanya 3 unit, ditambah satu truk tanki di Demak Kota dan 1 unit di Karangawen. “Kami tak akan pulang sebelum api padam,” tegasnya. (swi/16)

Tersiram Sosis Goreng, Tubuh Dikerubuti Belatung

WARGA MISKIN: Prety Lindasari kembali dirawat di RSUD Sunan Kalijaga Demak berkat kepedulian sosial tetangganya. HARSEM/SUKMA WIJAYA

DEMAK-Naas menimpa Prety Lindasari (8), siswa kelas 2 SDN Bintoro 10. Tak sengaja tubuhnya tersiram minyak sosis goreng. Sepulang dari rumah sakit, tubuhnya dikerubuti belatung.

PUTRI pasangan Mohamad Nuryadi (35) dan Sri Sumiyati (31) warga Jalan Semboja Indah (Bong Cina) Kelurahan Kalicilik Demak itu tersiram minyak sosis pada 29 Mei silam. Kala itu, si bocah hendak berangkat mengaji ke madrasah dekat rumah neneknya di Kampung Trembul (belakang Gedung Garuda) Kelurahan Bintoro Demak.

“Waktu itu bakul sosis, Pak Zaini tengah menuang minyak ke penggorengan. Bersamaan, Prety mengambil plastik untuk tempat sosis. Tiba-tiba, minyak goreng tertumpah ke badannya,” cerita ibunya.

Tak ayal, bagian dada, kaki kiri, dan tangan kanan bocah naas itu melepuh tersiram minyak panas. Sebagian besar kulit tubuhnya juga mengelupas. Oleh keluarga, Prety dilarikan ke RSUD Sunan Kalijaga. Sempat dirawat selama dua minggu di ruang Kenanga, namun kemudian dibawa pulang karena kehabisan biaya.

Menurut cerita tetangga korban, orangtuanya sudah habis Rp 8 juta untuk biaya tiga kali operasi. “Dengar-dengar, sekali operasi habis Rp 2,5 juta. Malahan sepeda motornya sudah dijual untuk biaya operasi,” cerita tetangganya yang tak mau dikutip namanya.

Orang tua korban yang hanya buruh tani, kemudian membawa pulang. Padahal dokter menyarankan setidaknya dilakukan 8 kali operasi. Tiga hari menjalani perawatan ala kadarnya di rumah, tubuh Prety mulai terkena infeksi. Nanah mulai keluar dari sela-sela perban. Bahkan sebagian lukanya mengeluarkan belatung.

Urunan Tetangga
Oleh tetangga korban tak sampai hati melihat penderitaan bocah malang itu. Mereka urunan untuk membiayai pengobatan Pretty di rumah sakit. "Kami menghimpun sumbangan untuk mengirim berobat ke rumah sakit," kata Agung, tetangga korban. Karena warga mengetahui Prety dari dari keluarga miskin, sumbangan cepat terkumpul.

Tadi malam Prety sudah kembali dirawat,  kali ini di ruang Cempaka RSUD Sunan Kalijaga Demak. Sejumlah wartawan yang meliput sempat tereyuh melihat kondisi korban.

Ibu korban mengaku sudah memaafkan penjual sosis. “Itu hanya musibah. Kami sudah memaafkan Pak Zaini dan tak ingin memperpanjang masalah,” jelasnya.

Namun keluarga berharap memperoleh bantuan pengobatan dari pemerintah. “Mungkin dari Jamkesda atau program lain,” harapnya. (swi/16)

Pembunuh Siswa SMK Ganesha Tertangkap


DEMAK-Tiga pelaku pembunuhan siswa SMK Ganesha Kecamatan Gajah, Agus Setiawan bin Kaswiri (16), tertangkap. Tiga tersangka lain masih dalam pengejaran polisi. Petugas memastikan, tersangka pembunuhan atas korban Agus Setiawan sebanyak enam orang. Mereka beramai-ramai menganiaya korban hingga tewas.

Korban menghembuskan nafas terakhirnya di pinggir Jalan Raya Gajah-Kudus wilayah Dukuh Wonorenggo Desa Cangkring Rembang Karanganyar, akibat luka yang sangat parah di kepala bagian belakang. Hidung dan mulut korban juga terus mengeluarkan darah.

Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo melalui Kasubag Humas AKP Sutomo menjelaskan, ketiga tersangka adalah warga Desa Mlekang Karanganyar, yaitu ABA bin Ahmadi alias Bodong (15), HRS bin Sumakno (16), dan SHJ bin Sumakno (14).

Setelah dimintai pengakuan dan keterangan dua saksi, ketiganya dinyatakan sebagai tersangka oleh polisi. Pihaknya masih mengembangkan tiga tersangka lain yang kabur. “Sebagian ada yang sudah kabur ke luar Jawa. Kami sebagai penegak hukum meminta kepada tersangka untuk menyerahkan diri,” kata AKP Sutomo.

Penganiayaan terhadap siswa SMK Ganesha Gajah yang mengakibatkan korban meninggal terjadi Sabtu malam (9/6). Diperkirakan, ada tiga lokasi tempat kejadian perkara (TKP) yang terkait dengan kasus itu.

TKP I di arena organ tunggal di Desa Cangkringrembang RT 01 RW 03. Saat itu diadakan pentas untuk tasyakuran pemuda karang taruna. Sekira pukul 19.30, sempat terjadi perkelahian antara korban dengan sejumlah tersangka, yang selanjutnya dibubarkan polisi.

Korban yang lari keluar arena terus dikejar tersangka. Dari jalan desa menuju jalan raya (TKP II), korban terus dikejar-kejar.

“Saya hanya memukul dan menendang korban yang terus berlari. Kayu bulat ini tidak jadi saya pukulkan ke korban,” aku ABA bin Ahmadi.

Dua tersangka lain, HRS bin Sumakno (16), dan SHJ bin Sumakno (14) mengaku tidak ikut memukul korban. “Saya tarik adik saya untuk tidak ikutan memukuli korban,” jelas HRS.

Tapi pengakuan HRS dimentahkan keterangan saksi yang mengenalnya, dan mengetahui dia ikut menghajar korban.

Informasi yang dihimpun Harsem, dalam aksi penaniayan tersebut, diduga kuat ada pelaku yang menghajar menggunakan pipa besi. Namun polisi belum bisa menemukan alat tersebut. Terbukti polisi hanya menyita 3 bilah kayu balok yang patah, satu potongan kayu berbentuk bulat, serta jaket warna silver dan sepasang sandal merek New Era milik korban.

Dan keterangan warga setempat, korban sempat ber-SMS ke teman satu desanya, yang menanyakan apakah temannya bisa menyelamatkan nyawanya yang saat itu terancam. (swi/16)


DI BAWAH UMUR : Tiga tersangka pembunuhan yang tertangkap ternyata masih pelajar.
NB: Wajah tolong dikaburkan
HARSEM/SUKMA WIJAYA

Akhir Juni Dipastikan Pedagang Masuk Pasar Bintoro

Optimalkan Daya Saing Pasar

Demak-Kepala Dinperindagkop dan UMKM Demak, Eko Pringgolaksito memastikan akhir Juni 2012 seluruh pedagang bisa masuk dan berdagang dilokasi pasar Bintoro.

Dari data Dinperindagkop sebanyak 90 persen dari 2.500 pedagang yan terdata telah melunasi kuwajiban atas kios dan los yang dibebankan. Namun hanya sebagian yang sudah mengabil kuncinya.

"tanggal 30 Juni 2012, kita akan masukan seluruh pedagang ke dalam lokasi pasar," kata Eko Pringgolaksito, kemarin. Karena semua lapak dipinggir jalan raya Demak-Kudus akan dibersihkan untuk persiapan pembangunan jalan beton bertulang di depan Pasar Bintoro.

Terkait lapak, Eko meminta kesedian pedagang membingkar sendiri, dan bangunan pasar darurat dilokasi dekat Sungai Tuntang yang sebelumnya disediakan oleh investor untuk relokasi pedagang akan dibongkar oleh investor sendiri.

Eko menjelaskan, secara riil jumlah kios mencapai 297 ruang, 2.100 los kering, dan 347 los basah. "penambahan kios terjadi alah satunya untuk mewadahi pedagang kaset dan CD di sebalah utara bangunan pasar, sehingga mereka rapi terwadahi," tambahnya.

Pasar Bintoro juga dilengkapi hydran untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran, hydran tersebut disambungkan ke jalur pipa distribusi dari PDAM, dan beberapa APAR (alat pemadam api ringan) yang ditempatkan di sejumlah kios.

Daya Saing
Selanjutnya setelah menata pedagang masuk ke dalam Pasar Bintoro, Dinperindagkop berupaya mengoptimalkan daya saing pasar Tradisional.

Dalam era perdagangan bebas, banyak pengusaha mendirikan waralaba di setiap sudut strategis perdagangan. Ujungnya keberadaan waralaba mengurangi sejumlah pelanggan bagi pasar Tradisional.

Menurut Eko Pringgolaksito, pihaknya sangat tegas dalam menata lokasi berdagang di pasar Bintoro, jangan sampai terjadi pedagang baju bersebelahan dengan penjual Sate Kambing dan penjual minyak goreng.

Dan untuk mendorong daya saing, Pemda akan menempatkan pelayanan BPR-BKK di lantai tiga atau lokasi Kantor Pasar, sehingga memudahkan pedagang bertransaksi melalui Bank.

Diberitakan, setelah usai pembangunan, pasar Bintoro akan menjadi pasar terbesar di Jawa Tengah, dimungkinkan transaksi yang terjadi hingga milyaran rupiah akan terjadi setiap hari.

Potensi tersebut akan banyak menyerap perhatian para pembisnis, dan Pemda telah berusaha memfasilitasi para pedagang dengan kredit bunga lunak untuk meningkatkan usahanya, melalui UMKM atau perBankan lain.  (swi)

Dijegal Ikut O2SN, Karateka Pelajar Kecewa

DIJEGAL: Siswa SMPN 1 Demak, Asiska Doni Oktafianto (tengah) kecewa tidak bisa mengikuti Olimpade Olahraga dan Sains Nasional (O2SN) Tingkat Jawa Tengah. HARSEM/SUKMA WIJAYA

DEMAK-Seorang pelajar kelas VII SMPN 1 Demak, Asiska Doni Oktafianto kecewa. Dia merasa dijegal untuk mengikuti Olimpade Olahraga dan Sains Nasional (O2SN) Tingkat Jateng. Dia dicoret dengan alasan yang tidak jelas.

“Saya kecewa tidak bisa ikut berlaga di O2SN. Saya dijegal dari seleksi dengan alasan tak jelas,” aku Asiska Doni Oktafianto didampingi pelatihnya Martono dari perguruan Karate Inkai Demak.

Martono menambahkan, anak latihnya sarat prestasi, seperti juara II katak perorangan putra pemula Kejurnas Pelajar 2012. "Dia memiliki potensi untuk menang, namun dia dihegal. Tak bisa ikut seleksi dengan alasan tak jelas," kata Martono.

Ungkapan Martono dikuatkan Ketua Peguruan Karate Shinduka Demak, Dwi Prihatin. Selain Asiska Doni Oktafianto masih ada sembilan pelajar lain yang digagalkan dengan alasan serupa.

Atas masalah itu, kedua pelatih melakukan protes ke Dindikpora sebagai penyelenggara O2SN. “Pada dasarnya, O2SN memang gawe dari dinas pendidikan. Namun dalam melakukan seleksi atlit, kami melibatkan organisasi olah raga terkait," kata Kepla Dindikpora Demak, H Afhan Noor.

Untuk menyeleksi atlet karateka pelajar, Dindikpora meminta bantuan FORKI (Federasi Olah Raga Karateka Indonesia). Karena FORKI mengerti betul kualitas atlet yang akan dikirim ke O2SN di Jateng.
Belakangan, Afhan Noor mengerti ada persoalan internal di tubuh FORKI. Mereka sengaja menganulir sejmlah siswa, sebab perguruan karatekanya sudah menyatakan diri keluar dari FORKI.

Afhan mengaku tak mau mengurusi persoalan internal, namun mengharapkan dilain hari tidak terjadi hal serupa terulang. Jangan sampai ada atlet pelajar berkualitas, tidak mempunyai kesempatan untuk bertanding akibat masalah yang sama. (swi/16)


Idamkan Supermarket Rakyat

H Amrullah Jazeri

DEMAK-Sebagai ekonom kerakyatan, Ketua KUD Pringgodani Gajah, H Amrullah Jazeri berobsesi membuat supermarket rakyat. Namun untuk mewujudkannya, dibutuhkan investasi besar. Dia akan menggandeng sejumlah teman bisnisnya untuk membangun supermarket tersebut.

Konsep supermarket rakyat seperti halnya supermarket lainnya, tapi produk yang dijual merupakan hasil produk lokal. Disajikan secara profesional seperti layaknya manajemen supermarket.

“Dalam supermarket rakyat akan kami sajikan produk lokal dari Demak yang dikelola berdasarkan manajemen Supermarket secara profesional,” ujarnya, kemarin.

Bagi Jazeri, Kabupaten Demak menyimpan banyak produk lokal bernilai internasional, namun belum dikelola profesional. Jika ide pendirian supermarket rakyat tak terwujud, misalnya karena tak ada dukungan investor, dia punya ide yang lebih gila. Dia akan mengajukan permohonan untuk menggunakan gedung Pancasila yang mangkrak, untuk disewa menjadi supermarket rayat.

Pengelolaannya nanti akan melibatkan ratusan koperasi di Demak yang saat ini masih kurang berkembang. Menurut mantan orang kedua di Puskud Jateng dan bekas politikus kondang di jajaran Partai Golkar Demak, impian supermarket rakyat tidak muluk-muluk.

Jazeri membuka diri bekerja sama dengan semua pihak untuk mewujudkan supermarket rakyat yang diyakini prospektif menyedot banyak pembeli. (swi/16)


Ulat Jengkal Hantui Petani Tembakau

PENUH LUBANG: Daun tembaku menjadi berlubang-lubang akibat diserang ulat jengkal palsu hijau atau Hyposidra sp. HARSEM/SUKMA WIJAYA
DEMAK-Iklim tak menentu dan pengaruh hujan membuat petani tembaku khawatir. Mereka dihantui munculnya serangan ulat jengkal palsu hijau atau Hyposidra sp. Untungnya, sejauh ini hanya sedikit areal yang diserang. Ulat berwarna hijau itu biasanya memakan daun tembakau yang masih muda atau pesemaian.
“Kami masih terus memantau. Apalagi saat ini cuaca tak menentu, kadang turun hujan padahal sudah masuk musim kemarau,” kata petani tembakau, Mufid (41) warga Kalitengah Mranggen.

Dia melakukan berbagai upaya agar tanaman tembakaunya tidak rusak oleh serangan ulat jengkal, yang terus memakan daun tembakau sejengkal demi sejengkal. Menurutnya, serangat ulat mempengaruhi kualitas sehingga harga jual tembakau menurun.

Pada masa tanam kedua (MT II), sebagian petani di tiga kecamatan, yaitu Mranggen, Karangawen, dan Guntur mulai menanam tembakau. Selain kebal dari hama tikus, harga jual hasil panennya cukup menjanjikan.

Bidang Perkebunan dan Kehutanan Dinas Pertanian Demak mencatat luas areal tanam tembakau di tiga kecamatan tersebut mencapai 4.751 hektar. Tahun 2012 ini diprediksi petani akan menambah luasan tanam, karena tahun lalu rugi saat menanam jagung.

Kades Sumberejo Mranggen, Supriyadi mengakui adanya serangan ulat, namun hama itu hanya menyerang sebagian kecil di lahan tanam tembakau. “Kami masih bisa menghalau hama ulat,” akunya.

Terpisah, Kabid Perkebunan dan Kehutanan, Made Sutapa mengatakan serangan ulat jengkal masih bersifat ringan hanya menyerang 2-3 hektar. Pihaknya telah melakukan pengendalian dengan obat Atabron.

Lanjutnya, ulat jengkal biasa menyerang daun tanaman tembakau saat menjelang sore (waktu Maggrib). Hama ini biasa memakan daun-daun muda hingga berlubang.

“Untuk mengantisipasinya, dengan cara menjaga kebersihan lingkungan atau pengendalian serentak dengan obat Atabron,” jelas Made. (swi/16)

Tak Punya WC, Siswa Buang Hajat di Sungai

RUSAK PARAH: Kondisi bangunan MA Miftahul Huda di Desa Brakas Kecamatan Dempet rusak pada bagian atap. HARSEM/HARI SANTOSO-JBSM 
DEMAK-Di tengah melimpahnya anggaran pendidikan, masih saja ada sekolah yang tidak kopen. Salah satunya Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Miftahul Huda, di Desa Brakas Kecamatan Dempet. Lantaran tak punya WC, siswa terpaksa harus ke kali saat buang hajat.

MENURUT Kepala MTs Agus Taufikurahman, kondisi sekolahnya sangat memperihatinkan. Jangankan fasilitas pendidikan, sekolah bahkan tak memiliki fasilitas kamar mandi atau WC.

“Bila ada siswa yang ingin buang hajat, terpaksa lari ke sungai depan sekolah,” katanya, kemarin.
Sekolah juga membutuhkan laboratorium dan alat penunjang peraga pendidikan. Minimnya dana yang dimiliki menjadikan sekolah tak bisa mengusahakan fasilitas tersebut. 

Meski siswanya belajar dalam keterbatasan, prestasinya tidak pernah jeblok. Tingkat kelulusan rata-rata 100 persen. “'Sekolah kami berada di wilayah pinggiran jauh dari ibu kota kabupaten. Kami berharap bantuan pemerintah.”

Kepala MA Suranto menambahkan, bangunan sekolah dalam kondisi rusak. Sekolahnya juga tidak memiliki kamar mandi. Dia berharap perhatian dari Kementrian Agama (Kemenag) Demak berupa perbaikan sarana dan prasarana. “'Bantuan bisa menambah kualitas kegiatan belajar mengajar di tempat ini,” katanya.

Salah satu siswa MA, Nurul (16), menginginkan  bangunan sekolahnya diperbaiki. “Apabila gedungnya bagus tentu suasana belajar di kelas lebih nyaman.”

Diungkapkan, tembok bangunan retak dan mengelupas. Kemudian atap kelas jebol lantaran lama tak pernah diperbaiki. Bahkan, ketika kemarau debu beterbangan mengganggu kenyamanan belajar.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Demak HM Niam Ansori mengaku prihatin terhadap kondisi MA dan MTs Miftahul Huda. Dia meminta pihak sekolah mengirimkan data disertai foto tentang kerusakan bangunan sekolah. Sekolah itu seharusnya mendapat prioritas bantuan. “Silakan mengajukan permohonan bantuan mulai sekarang. Mudah-mudahan bisa diprioritaskan untuk menerima anggaran di 2013,” jelasnya. Menurut catatan, MTS ini sudah meloloskan banyak guru sertifikasi dengan jumlah siswa mencapai ratusan. (H41-JBSM/16)


Kurang Pengawasan, Udin Jadi Anak Punk


DEMAK-Usianya masih belia, 12 tahun. Tapi Udin alias Gendot sudah sekian lama ‘berkelana’ menyusuri jalanan Kota Demak yang terik. Bocah yang mestinya masih duduk di bangku sekolah dasar itu, kerapkali terlihat ngamen di bangjo (lampu merah) Katonasari.

Menjadi pengamen terpaksa dia lakoni lantaran kini dia hidup sebatang kara. Ayahnya sudah lama meninggal, adapun ibunya bekerja di Palembang. Demi sesuap nasi serta akibat kurang pengawasan, bocah warga Jipang Pakis Kudus ini terpaksa menggelandang. “Ibu saya kerja di Palembang,” ujarnya saat dinaikan truk dan dibawa ke Mapolres Demak.

Sejumlah anak punk yang kerap mangkal di lampu bangjo dan area publik lain, digaruk Sat Sabhara Polres Demak, kemarin. Penertiban dilakukan untuk mendukung program, tahun 2013 Jawa Tengah bebas dari gepeng (gelandangan dan pengemis). Selain anak punk, anak jalanan, PGOT (pengemis, gelandangan, dan orang terlantar) serta orang gila juga turut dirazia.

Pada razia kemarin, Sat Sabhara berhasil menjaring 18 anak punk yang kedapatan sedang mengamen. “Mereka dibawa ke Mapolres untuk didata, selanjutnya mengikuti sidang tipiring di pengadilan negeri,” ujar Kasubag Humas Polres Demak AKP Sutomo didampingi Kasat Sabhara AKP Sugiyono.

Petugas juga menyita enam alat musik kentrung dan ketipung. Dua di antara anak punk adalah seorang gadis di bawah umur yang kedapatan lari dari rumahnya. Mewakili Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo, Sutomo menambahkan, langkah Sat Sabhara untuk menindaklanjuti pengaduan masyarakat yang merasa resah dengan keberadaan anak punk yang mengamen di pinggir jalan.

Warga resah, terjadi tindak pidana yang dilakukan anak-anak punk tersebut. Apalagi jika tidak diberi uang, mereka kerap mengeluarkan kata-kata kotor kepada pengguna jalan.

Seorang anak punk lainnya, Bayu (12) warga Desa Brakas Dempet mengaku pergi dari rumah tanpa izin orang tuanya. “Saya ngamen buat makan, biasanya di lampu bangjo Katonsari,” akunya acuh tak acuh. (swi/16)

Umur 17 Tahun, Njambret 15 Kali

Written By tonitok on Sabtu, 16 Juni 2012 | 09.38

KENYANG PENGALAMAN: Dua tersangka curas MAS alias Kintel (15) dan AK alias Jontor (17) yang merupakan spesialis jambret, diamankan di Mapolres Demak (harsem/sukma)
DEMAK-Umurnya memang masih belia, namun pengalamannya dalam hal kriminalitas terbilang luar biasa. Di usianya yang baru menginjak 17, MAS alias Kintel (15) warga Kudu RT 04 RW 03 Genuk Semarang sudah menjambret sebanyak 15 kali.

BERSAMA ‘rekan kerjanya’ AK alias Jontor (17) warga Desa Kalisari RT 01 RW 04 Sayung, dicokok setelah menggondol motor Honda Scoopy milik temannya sendiri. Keduanya tertangkap menyusul laporan pencurian dengan kekerasan (curat) terhadap Dimas Cakra bin Murtando (19) warga Kelurahan Karangroto RT 02 RW 03 Genuk Semarang, Selasa kemarin (5/6) di Mapolres Mranggen.

Korban melaporkan motor Honda Scoopy warna pink bernopol H-4698-KP miliknya dibawa kabur kedua tersangka. Dimas yang dicekoki minuman keras semacam ciu, menjadi mabuk. Kemudian tersangka dengan leluasa menghajar korban menggunakan parang.

Korban yang terluka ditinggal begitu saja di lokasi kejadian di lapangan dekat TVRI Jateng Pucanggading Desa Batursari Mranggen. Beruntung warga yang melintas membantu mengantar korban ke Puskesmas III Mranggen.

Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo melalui Kasubag Humas AKP Sutomo menjelaskan, kendati tersangka tergolong masih di bawah umur, namun pengalaman kejahatannya luar biasa. "Pengakuannya, mereka spesialis jembret dan sudah melakukan belasan kali di kota Semarang dan Demak,” tegasnya didampingi Kapolsek Mranggen AKP Nur Salim.

Aksi penangkapan oleh Satreskrim Polres Demak dan Polsek Mranggen dilakukan di depan pasar Ganefo Mranggen ketika tersangka akan melakukan pertemuan dengan rekannya. Setelah menangkap Kintel dan Jontor, polisi memburu dua tersangka lain.

Dalam gelar perkara, dua ABG membantah mencuri. Dia hanya ‘meminjam’ karena mereka datang berlima dan hanya membawa dua motor, salah satunya milik korban.

Menurut Kintel, semula korban mengundang dia dan kawannya minum ciu di jembatan Bangetayu Genuk. Setelah diusir polisi yang berpatroli sekitar pukul dua belas dinihari, mereka pindah ke lapangan TVRI.
"Dimas meminta saya membayar ganti rugi motor yang dijatuhkan teman saya. Saya tak punya uang tapi dia terus memaksa," katanya.

Kintel tak mau mengakui dirinya sengaja membawa motor korban untuk dikuasainya. Bahkan parang yang disabetkan ke tubuh korban, diakui milik kedua rekannya yang saat ini masih buron.
"Saya sudah 15 kali menjambret. Beberapa kali di Tembalang, Palebon, Plamongan, Banyumanik dan Pucanggading,"aku Jontor.

Sementara Kintel ‘baru’ tiga kali ikut menjambret. Yakni di Palebon, Tembalang, dan Mranggen. (swi/16)

Guru BK Teman Curhat

Motivasi Karakter Siswa

Demak-Pemikiran sebagian pelajar tentang keberadaan guru bimbingan konseling (BK) masih dipandang sebelah mata. Bahkan para guru BK masih dinilai seperti Polisi Sekolah yang terus-terusan mencari kesalahan siswa.

Dibalik itu, potensi guru BK justru memotivasi karakter siswa dalam meraih kompetensinya menuju cita-cita siswa atau siswa sendiri mampu mengadabtasikan dirinya dilingkungan sekolah.

"Kiprah guru BK sebagai jembatan, tidak hanya memfasilitasi  siswa yang bermasalah, namun guru BK mampu memotivasi siswa untuk belajar," ungkap Wakil Ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin)  Cabang Kabupaten Demak, H NA Sobri, di acara pelantikan pengurus cabang Abkin Demak 2012-2017 dan seminar sehari penilaian kinerja guru (PKG) di Pendapa kabupaten, Minggu (10/6).

NA Sobri mendampingi, Ketua Abkin Demak Mahful dilantik oleh Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Abkin Jateng Sunu Pancariatno, disaksikan Ketua Umum Pengurus Besar Abkin Pusat Profesor Mungin Eddy Wibowo. Hadir Kepala Dindikpora Demka HM Afhan Noor, Kabag Kesra Setda Demak Jauhar Arifin dan ratusan guru BK dari berbagai sekolah se Demak.

Menurut Mungin Eddy Wibowo, keberadaan guru BK pernah dikenal sebagai guru bimbingan penyuluhan (BP) dan menjadi tuntutan dari UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) no 20 tahun 2003, maka peran guru BK sanga penting turut mendidik siswa. 

"sosok guru BK, diibaratkan sahabat karib siswa. Bahkan  bila perlu bisa menjadi teman curhat di kala sedih dan gembira," kata Mungin.

Kedekatan  guru dan siswa penting untuk mengetahui persoalan yang dihadapi anak didik, sekaligus memantau potensi, bakat dan minat mereka. Dan guru BK, menjadi rujukan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi siswa. 

Seperti ketika siswa kebingungan untuk memilih jurusan di sekolah, atau melanjutkan di perguruan tinggi (PT) maka peran guru BK sangat berarti.

Diberitakan, Abkin merupakan wadah berkumpulnya pelaku dan praktisi konselor.  Sebelum berubah menjadi Abkin, organisasi profesi ini sempat bernama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada tahun 1975 lalu. 

Sampai kemudian pada tahun 1991 melebur menjadi Abkin sebagai organisasi keilmuan, professional dan mandiri, tambah Mahful. Dan sekarang terdapat lebih dari seratus orang guru BK di sekolah TK, SD, SLTP hingga SLTA se Demak.

Peran mereka sangat dibutuhkan untuk memberikan motivasi, membimbingan dan konseling untuk kemajuan dunia pendidikan. (swi)


Pelajar SMK Ganesha Tewas Dianiaya

FOTO ANAK: Kaswiri (45)  menunjukkan foto anak kesayangannya M Agus Setiayawan (15) 
yang tersimpan dalam kamera ponsel kemarin.

DEMAK- Seorang pelajar SMK Ganesa Desa/ Kecamatan  Gajah  menjadi korban penganiayaan   hingga tewas   Sabtu (9/6)  dini hari sekitar pukul 22.30.

Siswa nahas itu  bernama  M Agus Setiayawan (15)  warga RT 01 RW 02 Desa Mojosimo Kecamatan  Gajah, yang diketahui pergi dari rumah bersama empat rekannya menonton pertunjukan musik dangdut  di Desa Cangkring Rembang Kecamatan Karanganyar.

Semula  jenasah Agus yang tergeletak di pinggir jalan raya Semarang-Demak- Kudus KM 31 Desa Cangkring Rembang  Karanganyar  dikira korban tabrak lari.

Namun Polisi memastikan anak pasangan Kaswiri (45) dan Kasirah (42)  itu tewas terbunuh mendasari banyak  luka di beberapa bagian tubuh.
 
Korban tewas dengan kepala belakang robek. Kemudian juga rahang kanan dan kiri patah.  Selain itu pelipis mata kanan lebam serta hidung mengeluarkan darah.  Hal tersebut merujuk keterangan pihak RSUD Sunan Kalijaga Demak yang memeriksa jenasah Agus,ujar Kapolres Demak AKBP Sigit Widodo melalui Kasubag Humas AKP Sutomo dan Kasat Reskrim AKP Pradana Aditya Nugraha.

Polisi masih menyelidiki kasus itu termasuk menanyai sejumlah teman korban yang berangkat bersama sama menuju lokasi pertunjukan musik dangdut.  Hanya saja memang belum diperoleh banyak  keterangan karena para saksi mengku masih  trauma.

Selebihnya jajaran Satreskrim Polres Demak kemarin berada di seputar lokasi tewasnya Agus untuk mengumpulkan barang bukti termasuk kemungkinan adanya sidik jari pelaku.

Dikeroyok
Sementara itu ayah korban Kaswiri  dan kakek korban  Sukarman (61)  ketika ditemui di  rumah duka  menduga Agus dibunuh dengan cara dikeroyok beramai ramai.   Dugaan itu memerhatikan luka luka di sejumlah bagian tubuhnya.
 
Saya menangis melihat luka yang diderita  cucu saya itu.  Mukanya rusak seperti diinjak-injak, kemudian juga mulutnya mengeluarkan darah yang  sudah mengering, terang Sukarman.
Kaswiri pun  sempat meraung raung ketika kali pertama dikabari anak kesayangannya  meninggal dengan cara tak lazim.

Menurutnya Agus adalah anak pendiam yang tak memiliki musuh. Dia menambahkan  tak seharusnya anak nomor duanya tersebut  dianiya hingga mengalami luka berat dan tewas.  

Kaswiri tak sempat ketemu anaknya karena masih berjualan mie ayam keliling kampung saat korban Agus keluar rumah Sabtu malam sekitar pukul 08.00.  Dia mendapat kabar memilukan pada  Minggu dini hari dari pihak pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Mendiang Agus berangkat ke Desa Cangkring Rembang berboncengan mengendarai motor bersama Aris (17), Ega (16), Wahyu (16) dan Jumeno  (17)  yang masih tetangga sekampung.   Mereka disebut sebut tertarik menonton pertunjukan dangdut yang belakangan malahan berujung malapetaka.   Ayah korban meminta Polisi mengusut tuntas kasus itu serta menghukum berat pelakunya.

Sementara itu  puluhan siswa SMK Ganesa kemarin berkumpul dan  melayat di rumah duka. Sejumlah siswa juga meminta pelaku penganiayaan terhadap rekannya itu secepatnya ditangkap Polisi.  (H41-)
-------------------------------------


Kronologis
1.Agus, Aris, Ega, Wahyu dan Jumeno  berboncengan naik motor menuju Desa Cangkring Rembang Karanganyar Sabtu sekitar pukul 09. 00. Mereka mendengar ada pentas orgen tunggal di salah satu rumah warga di pinggir jalan Raya Semarang- Demak-Kudus.

2. Terjadi keributan di pentas musik pukul 22. 00.  Aris, Ega, Wahyu dan Jumeno  melarikan diri sementara korban tertinggal dilokasi keributan.

3. Polisi  dan warga menemukan tubuh korban tergeletak di pinggir jalan raya tak jauh dari lokasi pentas musik dangdut sekitar pukul 22. 30.  Korban sempat dikira korban tabrak lari sampai akhirnya datang Ega dan Wahyu yang mencari korban di sekitar lokasi pertunjukan.

4. Sahabat korban memastikan tubuh yang tergeletak bersimbah darah adalah Agus.  Polisi kemudian membawa jenasah ke RSUD Sunan Kalijaga  untuk kepentingan penyelidikan.  Sumber: Diolah (H41-)

Sejarah Demak


SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN DEMAK

Sekitar akhir abad ke-15 kerajaan Majapahit mulai mengalami masa-masa keruntuhannya, beberapa daerah melepaskan diri dari Majapahit, termasuk yang dilakukan salah satu adipatinya yang bernama raden Patah. Dia adalah adipati Demak keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) raja Majapahit yang melakukan perlawanan terhadap kerajaan Majapahit dan kemudian dengan dibantu beberapa daerah-daerah lainnya di Jawa Timur yang sudah Islam, seperti Jepara, Tuban, dan Gresik mendirikan kerajaan Islam Demak.

Menurut cerita Raden Patah bahkan sampai berhasil merobohkan majapahit dan kemudian memindahkan semua alat upacara kerajaan dan pusaka Majapahit ke Demak, sebagai lambang dari tetap berlangsungnya kerajaan kesatuan Majapahit itu tetapi dalam bentuk baru di Demak[1].

Banyak versi tentang tahun berdirinya kerajaan Demak, menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara Negara Islam di Nusantara. Disebutkan bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 setahun sebelum berdirinya masjid Agung Demak namun kebanyakan sejarawan berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1500, para sejarawan ini beranggapan bahwa ada rentang waktu 21 tahun semenjak didirikannya Masjid Demak untuk membangun fondasi kemasyarakatan dan menyusun kekuatan di Demak dan dalam makalah ini kami mengambil pendapat yang kedua.

Berdirinya kerajaan Demak merupakan klimaks dari perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan Islam, didalam Babad Demak diceritakan bahwa sebelum kerajaan Demak berdiri di daerah Glagahwangipada, tepatnya pada tahun 1479 Masehi telah didirikan Masjid Agung Demak, yang proses pembangunannya melibatkan Walisongo, Masjid ini kemudian berperan sebagai jantung penyebaran islam dan penanaman akidah Islam bagi masyarakat Demak, sekaligus sebagai fondasi awal bagi berdirinya kerajaan Demak.

Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi).

Menurut Mohammad Ali (1963), dalam bukunya “Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara”, menarik untuk dilihat. Dalam menguraikan terjadinya Kerajaan Demak, Moh. Ali menulis bahwa pada suatu peristiwa Raden Patah diperintahkan oleh gurunya, Sunan Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi. Tanaman gelagah yang rimbun tentu hanya subur di daerah rawa-rawa. Dalam perantauannya itu, Raden Patah sampailah ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo (Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”.

II.1 Raja-Raja Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan yang menjadi Basis kekuatan Utama dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa dan sekitarnya baik dari segi Militer maupun pendidikan, kebesaran Demak tak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Raja-Rajanya, begitu pula kehancurannya yang diakibatkan perebutan kekuasaan para penerus kekuasaan, selama berdirinya kerajaan Demak dipimpin oleh empat Raja sebelum dipindahkan oleh Jaka Tingkir ke Pajang. Raja-raja tersebut adalah:

Raden Patah (1500-1518)


Raden Patah merupakan Anak raja Majapahit Brawijaya V dari seorang perempuan campa, dikenal juga dengan nama Jin  Bun. Saat sebelum memberontak kepada Majapahit, Jin Bun atau Raden Patah adalah Bupati yang ditempatkan di Demak atau Bintoro. Beliau adalah pendirii kerajaan Demak dan murid Sunan Ampel yang menjadi raja pertama dengan bergelar Sultan Syah Ngalam Akbar Al-Fattah. Raden Patah memiliki tiga orang putra, yaitu Pati Unus, Pangeran Trenggono, dan Pangeran Sekar Ing Seda Lepen, serta bermenantukan Fatahillah. Raden Patah meninggal tahun 1518, dan digantikan oleh anaknya Pati Unus.

Pati Unus/Pangeran Sabrang Lor (1518-1521)

Beliau merupakan Anak dari raden patah dan kakak dari Sultan Trenggono. Berkuasa selama 3 tahun dari tahun 1518-1521. Pada tahun 1518 dibawah komandonya kerajaan Demak menyerang Malaka yang dikuasai Portugis sehingga beliau dijuluki Pangeran Sabrang Lor, walaupun serangan tersebut gagal namun eksistensi kerajaan Demak mulai diperhitungkan. Upaya menghalau Portugis terus dilakukan dibawah komando beliau yaitu dengan melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan. Setelah serangkaian percobaan dalam menghalau tentara Portugis akhirnya pada tahun 1521 Pangeran Sabrang Lor meninggal dunia tanpa keturunan.

Sultan Trenggono (1521-1546)

Beliau adalah putra dari Raden Patah dan adik dari Adipati Unus. Naik tahta setelah bersama anaknya, Sunan Prawoto menyingkirkan Raden Kikin (pangeran Sekar Ing Sedo Lepen) saudara tirinya. Bersama menantunya, Fatahillah mengirimkan pasukan untuk menaklukan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 dan berhasil meghalau Portugis dari Sunda Kelapa. Beliau menyerang Blambangan pada tahun 1546 dan beliau meninggal di Pasuruan sebelum berhasil menakhlukan Blambangan. Pada masa kepemimpinannya dianggap sebagai masa keemasan kerajaan Demak karena memiliki daerah yang luas mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur dan meluaskan pengaruh sampai Kalimantan dan Sumatera.

Raden Mukmin / Sunan Prawoto (1546-1549)

Raden Mukmin adalah putra sulung Sultan Trenggono dan turut membantu ayahnya naik tahta menyingkirkan pangeran Sekar Ing Seda Lepen. Beliau naik tahta setelah menyingkirkan Raden Kikin, beliau Memimpin antara tahun 1546-1549 dan memindahkan ibu kota dari Bintoro ke bukit Prawoto sehingga ia dijuluki Sunan Prawoto. Raden Mukmin sangat berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan pulau Jawa namun beliau kurang ahli dalam berpolitik dan lebih suka hidup sebagai ulama suci dari pada sebagai raja. Menurut Kitab Babad Tanah Jawi ia dibunuh oleh Rangkud anak buah Arya Penangsang. Sunan Prawoto tewas meninggalkan seorang putra yang masih kecil bernama Arya Pangiri, yang kemudian diasuh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat dari Jepara. Setelah dewasa, Arya Pangiri menjadi menantu Sultan Hadiwijaya Raja Pajang, dan diangkat sebagai Bupati Demak.


[1] Lihat, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid III: 1959,hal.49. 

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. WARGA DEMAK "KOTA WALI" - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by tonitok
Proudly powered by Blogger